Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
denpasar, bali, Indonesia
penulis bebas nilai yang niat menulisnya tidak sejalan dengan ide menulisnya. salam kenal. aditlazu.

NALAR!!!




Ditemani segelas kopi dan harian kompas hujan pagi ini jadi terasa nikmat bangeet apalagi ditambah alunan saxophone punya kenny G, wiih udah kaya di film film nih, hhehe. Tapi yang buat saya pingin nulis sih bukan hujan atau kenny G nya yaa, saya cukup tertaik dengan tulisan dari harian yang saya baca (kompas). Dirubrik opini hari ini (20 February 2013) ada sebuah tulisan dari guru besar matematika ITB, Iwan Pranoto yang isi tulisannya tentang kelemahan siswa terkini dalam hal bernalar aktif baik yang pra perguruan tinggi maupun yang sedang ada dalam bangku perkuliahan.
            Melihat hal tersebut saya jadi mesam-mesem sendiri karena ya memang ga bisa dipungkiri lagi sayapun masih seperti itu, hehehe. Kebanyakan siswa sekarang (termasuk saya) hanya kuat dalam penghafalan fakta saja namun kurang sekali dalam hal bermain nalar. Ketika pelajar di Indonesia menurut TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) dianggap memiliki keunggulan di atas rata rata dunia dalam menghafal fakta namun tidak dapat dibanggakan ketika hanya penguasaan penghafalan saja kita kuat namun dalam penyelesaian permasalahan atau contoh kasus sama sekali kita tidak bisa kuasai.
Inilah tugas berat yang harus kita selesaikan dimulai dari diri kita sendiri ataupun dukungan dari diri orang lain. Dari diri kita sendiri dapat kita lakukan mulai dari mengubah mindset kita menghadapi pelajaran formal yang kita dapatkan karena ketika kita masih mainstream maka kita akan masih berpatokan bahwa yang penting “hafal materi aja udah cukup”, tapi kalau kita dapat merubah pola pikir kita menjadi yang penting kita “menguasai materi baru bisa cukup” akan membuat kita tidak hanya terjebak dalam teori teori saja namun teori kita juga bisa kita implemetasikan kedalam contoh contoh kasus ataupun kita justru bisa mengkritisi teori tersebut (mantaap). Nah untuk dukungan dari luar juga harus dimulai dari guru guru yang mengajar kita yang harus mulai memerdekakan intelektualitas murid-muridnya karena kebanyakan dari mereka masih menjajah murid muridnya dengan rumus rumus dan teori teori saja.
Jadi ketika nantinya semua elemen masyarakat dimulai dari siswa siswa sudah mulai di ajak untuk berpikir aktif bernalar, maka merdekalah kita dalam bidang ilmu pengetahuan tidak hanya diperbudak oleh manuver ilmu pengetahuan di Indonesia ini. Haha. Mungkin sekian aja dulu ketikan saya saat ini semoga bisa bermanfaat untuk saya sendiri dulu.
MERDEKA !!!

mari bung rebut kembali!!!!


"Orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya; orang-orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya." Kahlil Gibran
Diawali dengan membaca quote super ala tokoh dunia Kahlil Gibran jari sayapun merasa tergerak untuk kembali menulis dengan berlatar belakang tulisan keadaan negara saya ini INDONESIA. Ada hubungan apa sebenarnya quote tersebut dengan keadaan negara kita tercinta ini bung/ses???? jadi bagi saya quote tersebut sangat sesuai dengan keadaan masyarakat kita yang umumnya sudah terlanjur "benci" dengan bangsanya sendiri, sudah terlanjur pesimis dengan masa depan mereka di sini (indonesia). keadaan seperti ini tidaklah bisa dibiarkan terus berlanjut, jika kita sebagai awak kapalnya sudah tidak mau lagi melabuhkan kapal kita bagaimana keadaan kapal kita, sudah jelas sekali tidak akan berlabuh ke pelabuhan atau pulau yang indah, tenang, damai apalagi sejahtera. 

seperti inilah wajah indonesia, sudah hampir tidak lagi ada yang peduli dengan keadaan bangsa yang seperti ini. wajar saja apabila kita berpikir pesimistik kepada negara kita ini karna kita melihat kesengsaraan, kebobrokan mental, kebodohan, kemiskinan semua itu ada di negara yang dapat dikatakan sebagai bangsa yang seharusnya sukses dengan kekayaan alamnya, bangsa yang seharusnya terpandang dengan segala sumber dayanya, bangsa yang seharusnya di segani dengan segala potensinya, bangsa yang harusnya ditakuti bangsa lain karna kebesarannya. semua ini terjadi karna bangsa kita sepertinya sudah jatuh ketangan yang salah, jatuh ke tangan kapitalisme, jatuh ketangan pemilik modal yang ingin mengeruk kekayaan bangsa kita dengan tidak memikirkan kesejahteraan masyarakat yag ada di dalamnya dan hanya memikirkan bagaimana cara mereka untuk memenuhi perut mereka dengan segala sumber daya alam yang disediakan ditanah air kita ini. 

memaknai apa yang bapak negara kita pesankan "perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri" Soekarno. YA! memang benar, pesan beliau bagaikan sebuah ramalan yang berujung kenyataan bung, kita memang sedang melawan saudara kita sendiri bukan lagi tentara asing yang membawa senjara, namun para penanam modal yang membawa koper berisikan uang yang banyak. sepertinya kita kalah hanya dengan tiupan angin segar kemakmuran yang dijanjikan mereka yang sesungguhnya hanya berniat mengeruk segala kelimpahan sumber daya yang kita miliki saja bukan lagi mensejahterakan rakyat.

saat ini bisa kita lihat, hanya berapa orang yang berpikir "bagaimana KITA makan esok hari???" saat ini hampir semua orang berpikir "apa yang akan AKU makan esok hari?" kita sudah tidak lagi peduli dengan sekitar kita, kita sudah tidak lagi berpikir untuk mensukseskan bangsa kita ini, kita sudah berpikir individualis, konsumtif, tanpa mempedulikan sekitar kita lagi. apabila kita terus biarkan pola pikir kita yang tidak lagi peduli dengan keadaan bangsa ini maka akan dilabuhkan kemana kapal ini??? apakah justru kita menenggelamkan kapal kita ini??? apakan kita mau anak cucu kita tidak lagi bangga, tidak lagi sudi, atau bahkan tidak lagi tau menau apa itu INDONESIA karena mereka lebih memilih menjadi warga negara asing ketimbang warga negara indonesia dengan melihat keadaan negara mereka yang semakin hari semakin bobrok dengan korupsi, miskin jiwa, miskin hati, miskin harta. akan menjadi apa negara kita kedepannya? matikah kita di lumbung padi?

namun di setiap kesulitan pastilah ada kesempatan, sebelum ketakutan ketakutan ku menjadi kenyataan, marilah kita mulai membuka pikiran kita untuk memperbaiki bangsa, untuk membentuk kembali moral moral bangsa kita yang sudah hampir pudar, membentuk kembali rasa nasionalisme yang sudah mulai berterbangan mencari negara lain untuk dicintai. semua itu kita sendirilah yang memulainya dengan segala perjuangan yang ditunjukan oleh pahlawan dan pejuang kita, mereka tidak merasa rugi dengan memilih mati demi utuhnya NKRI padahal belum tentu jasa mereka kita ingat dan kita pun tidak tentu tau siapa siapa saja mereka yang mengorbankan nyawa demi Indonesia namun mereka tetap saja begitu cinta dengan negara tanah kelahiran mereka ini, maka dari itu marilah kita yang sudah tinggal menikmati buah dari perjuangan mereka teruskan pengorbanan mereka dengan tetap menjaga keutuhan NKRI dan memberikan jaminan kepada seluruh warga negara Indonesia sebuah kemakmuran, sebuah kesejahteraan, sebuah keamanan dan semuanya yang mereka butuhkan untuk hidup. jadikan mereka kaya di negeri bertabur sumber daya ini. bangunkanlah kembali garuda yang sedang tertidur ini, terbangkan dia jauh ke langit jangan biarkan ia kembali jatuh kebumi. semua itu ada ditangan kita, ini adalah negara kita jadi kitalah yang wajib memajukan negara ini.
MARI BUNG REBUT KEMBALI TANAH AIR KITA!!!!!!!!!

tulisan ini merupakan tulisan mahasiswa bodoh yang ingin menjadi saksi dari perubahan..

Ilmu Versus Nilai




           Tulisan ini saya buat Karena ada sesuatu yang mengganjal di pikiran saya sepulang kampus. Tadi sebelum pulang kampus ngedapetin curhatan temen masalah nilai ujiannya dia yang jatuh, doi bener bener ngrasa kayak udah ga ada harapan hidup aja nih gara gara ntu tadi, padahal kalo di itung itung ya, nilainya tu ga lebih rendah dari saya dan saya aja bisa santé juga ngejalanin kuliah ini, nah yang mengganjel ni ya kenapa dia bener bener kayak gitu dan ogut kayak gini??
                Jawaban itu pun bisa dijawab oleh akal pikiran gila ini dengan cepat, entah ni cuman pembelaan diri ato bisa dibilang kata kata gila tapi ada benernya ya, hhehhe. Jadi gini, terkadang tu gua liat kok ya orang orang yang lagi mengenyam pendidikan formal di suatu tempat ntu sebagian besar takut banget kalo nilai mereka itu kecil ya? Apa itu ada hubungannya ya sama kualitas pendidikan kita yang rendah??? Kok gue berani ya bilang gitu?? Jadi gini pemikiran yang gue punya, kalo anak nih di sekolahin buat nyari kerja so mereka bakalan ngejer nilai yang gede buat nunjangin kerja mereka nanti’ kalo udah gede! Iya gak?? Tapi yang aku tau yaaaa kita tu sekolah buat nyari ilmu, kalo ga salah si itu yaaa?? Nah kalo kayak gitu ya harusnya kita gampang aja dong kalo ikut belajar di sekolah,, yang penting kita bisa nerima apa yang bapak ibu pengajar kasih ke kita dan kalo kita ngga ngeh kita tanyain ke mereka dan kalo mereka ngga bisa jawab kita pukulin aja eh maksudnya kita tungguin aja sampe mereka bisa jawab kan?? Hhehehe. Jadi kalo nanti kita uda ujian pasti kita bisa jawab dan kalo daya inget ato penguasaan ilmu mereka tinggi ya pasti nilai mereka tinggi? Iya kan!, nah itu orang yang sekolah buat cari ilmu, kalo orang yang kuliah cuman cari nilai tu pasti dia bakal ga ngerti apa tapi nilai”nya gede (yaialah). Karena mereka cuman ngjer nilai gede itu tadi, dengan cara nyontek temen kalo lagi ujian, trus numpang gratis pas tmen temen lagi buat tugas, kalo di kelas plangak plongok ga ngerti apa apa dan ga mau nanyak karna emang ga ngeh ama pelajarannya yaaaa bukan karena dia udah ngeh ato dia udah nguasain materinya ini.
                Itu dia tadi yang menurutku  bisa jadi masalah besar, lah kok gawat banget? Yailah boy! Bayangin den kalo satu angkatan aja setengah muridnya udah kayak gitu bisa dibayangin deh masa depan bangsa ini kayak apa? Haitttt! Hhaha. Tapi ya emang kan yah? Kalo aku pikir pikir kebobrokan pentolan pentolan negeri kita itu pasti karna itu kan, pas muda dulu pasti dia lebih suka nyari jalan instan buat ngedapetin hal yang dianggap orang banyak itu wah yaitu nilai yang tinggi. Lain kalo orang yang nganggep nilai itu hanya sebagai hasil dari penguasaan materi mereka, pasti mereka bakalan mentingin ilmu apa yang mereka dapet hasil dari mengenyam pendidikan yang mereka tempuh tanpa terlalu peduli sama nilai yang tinggi (maksudnya tu mereka tetep peduli tapi ga kebangetan ya) yang harus mereka raih. Tapi menurutku orang orang yang kayak itu dia yang kebanyakan sukses karena emang mereka yang bisa bener bener menguasai dan memahami ilmu yang mereka cari dan mereka bisa mengimplementasikan di lapangan ato maksudnya itu di kehidupan sehari hari. Kebanyakan dari mereka juga pasti menganggap “halah nilai tu kan cuman di pake pas masukin lamaran doang selebihnya tu pake ilmu kan ya?” ,,,
                Nah jadi bisa kita tarik kesimpulan kalo dalam kehidupan perkuliahan maupun kedepannya nanti, yang terpenting itu adalah indeks peradaban komulatif bukan sekedar indeks prestasi komulatif bung! Kalo aja negara kita ini lebih mementingkan yang kayak gini yaaa? Yakin deh ga lama lagi negara kita bakal maju. Kenapa aku bilang gitu, sekarang liat deh negara buat meningkatkan kualitas dari pendidikan mereka pasti menaikan nilai standar lulus Ujian Nasional, yang membuat murid murid lebih takut ga lulus, jadi mereka berbondong bondong deh buat nyontek dan lulus,,, dan jebolannya nanti pasti mereka tetep bisa kerja, tapiiiiii ya kayak orang orang pemerintahan sekarang ini bung!!! Ndak ada yang salah dalam hal ini cuman yaaaaaaaaaaaa ……………………….
               

Sekian deh yang bisa ogut share,,, kalo ga sepemahaman jangan diambil hati yaaa, diambil yang baik baik aja, yang jelek monggo dievaluasi keun,, nuhuuuun

balada mahasiswa








"MAHASISWA
sekarang gw tanya', apa sih arti dari kata yang di cetak miring, bold, n digaris bawah? ato gini deh, ni buat orang orang yang nggak atau belum jadi mahasiswa, apa sih yang mereka ekspektasikan dari mahasiswa tu??? pasti mereka pikir, itu orang orang yang pinter, orang orang yang "wah", orang orang yang belajar di perguruan tinggi (ini sih emang), oke kalo yang kayak gitu sih bisa diterima yak,,,
nah kalo yang mikir mahasiswa itu orang yang belajarnya santai trus bisa gaya gayaan jalan jalan muluk ala ala ftv gitu, nah loh,,, gemana yaaaaa???? terima gak nih temen temen yang kuliah?? kayaknya ga mungkin yak??? iya kayak yang aku rasain ini, ternyata kuliah itu GA SEINDAH FTV yakan??? kalo di ftv tu artisnya mahasiswa tapi kayaknya masalah dari hidupnya tu cuman seputar pacaaaaar mulu', gada tugas tugas kampusnya banget dah, padahal ekspektasi gw kuliah tu asik banget ga kayak di sd, smp, sma gitu, eh ternyata na'udzubillah banget yak capeknya hhaha, 
tapi ga semua yang kita pikir jelek itu sebenernya jelek lohhhh,, kita capek pasti indah pada akhirnya, jadi buat temen temen yang bernasib sama, banyak banyakin baca blog blog motivator deh, itu cukup membantu mengurangi masalah kita kita loh,, trust me it works! 

ini cuman sekedar intermezzo yaaak, jangan di masukin ke hati, n jangan juga serius sampe di jadiin bahan penelitian atau bahan skripsi, hehe

IDEALISM NOT FOR SALE!!!

lakukan!!!

selesaikan lah sesuatu yang kita mulai, jangan menjadi pecundang yang hanya mau memulai namun tidak bertanggung jawab untuk hasil akhirnya..

bosen bin bangga

setelah melakukan penelitian-penelitian dan mengumpulkan beberapa riset para ahli, akhirnya saya LAZUARDI ADITYA RAMADHAN punya' blog juga'... (2011 baru punya' blog),,, yah semoga usaha saya ngga sia sia deh... 
oiya mav yha blog ane nhi masih cupu n terbilang mbosenin gara2 isinya kebanyakan politik, yhaa harap maklum hari hari ane belajar politik...
kalo ngga suka, bakar aja deh layar nya!!!!! okkeee!!!!!! hhaha

sosialisasi politik di negara demokrasi

Sosialiasi politik dewasa ini telah memiliki beragam cara. Pemerintah menggunakan berbagai inovasi baru untuk memberikan sosialisasi dari kebijakan politik yang dirumuskan oleh pemerintah.
Sosialisasi politik memiliki definisi Proses dengan mana individu-individu memperoleh pengetahuan, kepercayaan-kepercayaan, dan sifat politik. Adapun sebagai berikut beberapa definisi dari sosialisasi politik menurut para ahli, yaitu sebagai berikut :
·         Kenneth P. Langton
Sosialisasi politik dalam pengertian luas merujuk pada cara masyarakat dalam mentransmisikan budaya politiknya dari generasi ke generasi
·         Richard E. Dawson
Sosialisasi politik dapat dipandang sebagai pewarisan pengetahuan, nilai-nilai dan pandangan-pandangan politik dari orang tua, guru, dan sarana-sarana sosialisasi lainnya kepada warga negara baru dan mereka yang menginjak dewasa.
·         Dennis Kavanagh
Sosialisasi politik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses di mana individu belajar tentang politik dan mengembangkan orientasi terhadap politik.
·         Prewitt dan Dawson
Sosialisasi politik didefinisikan sebagai proses bagaimana warga negara memperoleh pandangan-pandangan politik yang merupakan perkumpulan cara yang telah menjadi pegangan bagi kehidupan politik bangsanya.
 Sosialisasi merupakan salah satu fungsi dari system politik. Gabriel Almond mengatakan bahwa fungsi politik terdiri dari 7 fungsi, yaitu :
1.      Fungsi Input (dilakukan infrastruktur politik)
a.       Sosialisasi dan rekruitmen politik
b.      Agregasi kepentingan
c.       Artikulasi kepentingan
d.      Komunikasi politik
2.      Fungsi Output (dilakukan oleh suprastruktur politik)
a.       Rule making (pembuatan peraturan)
b.      Rule application (pelaksanaan peraturan)
c.       Rule adjudication (peradilan)
Dari pemaparan tersebut jelas dikatakan bahwa sosialisasi politik dilakukan oleh pemerintah atau mereka yang termasuk dalam infrastruktur politik.
Sosialisasi politik memegang peranan penting bagi Negara Indonesia yang menganut demokrasi. Demokrasi berasal dari kata demos,berarti rakyat, dan kratein yang berarti kekuasaan atau pemerintahan. Demokrasi berarti pemerintahan atau kekuasaan rakyat. Berikut pengertian beberapa ahli tentang demokrasi :
·         Miriam Budiardjo (dalam Philipus dan Nurul Aini, 2006, hal 115) mengatakan bahwa demokrasi adalah system organisasi politik dan social yang diperjuangkan oleh pendukung-pendukung yang berpengaruh.
·         Hoogerwarf (dalam Philipus dan Nurul Aini, 2006, hal 115) mengartikan demokrasi sebagai cara membentuk kebijaksanaan dengan member banyak kemungkinan para anggota kelompok untuk mempengaruhi kebijakan itu.
Adapun tujuan demokrasi, menurut J.J Rousseu (1986, dalam Philipus dan Nurul Aini, hal 116) tujuan demokrasi adalah membuat manusia dapat hidup dengan baik. Oleh karena itu, biarkanlah manusia mengurus dirinya sendiri dan menentukan apa yang menjadi keinginannya, jangan mereka dipengaruhi. untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, maka dipilihlah seorang pemerintah atau dengan kata lain pemerintah bekerja untuk rakyat maka harus ada control dari masyarakat karena pemerintah seringkali lupa diri. Manusia yang ideal adalah manusia yang murni dan lugu karena manusia yang pandai hanya menciptakan malapetaka saja.
Sosialisasi politik di Negara demokrasi banyak dilakukan untuk membuat individu mengenali sistem politik, yang kemudian menentukan sifat persepsinya mengenai politik serta reaksi-reaksinya terhadap gejala-gejala politik (Rafael Raga Maran, 2007, hal 135). Proses dengan mana individu-individu memperoleh pengetahuan, kepercayaan-kepercayaan, dan sifat politik (Alex Thio, 1989, 412)
 Proses sosialisasi politik berlangsung seumur hidup yang diperoleh secara sengaja melalui pendidikan formal, non formal dan informal maupun tidak sengaja melalui kontak dan pengalaman sehari-hari, baik dalam kehidupan keluarga dan tetangga maupun dalam kehidupan masyarakat.
Seperti contoh sosialisasi politik sering kali dilakukan oleh partai politik. mereka melakukan pendidikan politik melalui kegiatan kursus, latihan kepemimpinan, diskusi dan keikutsertaan dalam berbagai forum pertemuan untuk menyebarkan nilai, norma dan simbol yang dianggap ideal dan baik.
Namun sisi lain dari fungsi sosialisasi politik partai ialah upaya menciptakan citra bahwa ia memperjuangkan kepentingan umum. Hal tersebut sangat penting apabila dikaitkan dengan tujuan utama dari partai politik yaitu menguasai pemerintahan melalui kemenangan dalam pemilihan umum. Karena itu partai politik mencari citra sebagus mungkin untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat.
Dimensi lain dari sosialisasi politik adalah sebagai proses yang melaluinya masyarakat menyampaikan budaya politik  yaitu norma-norma dan nilai-nilai, dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian sosialisasi politik merupakan factor penting dalam terbentuknya budaya politik suatu bangsa.
Tujuan dari sosialisasi politik itu sebenarnya mungkin ialah mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam politik dimana itu sangat penting dalam kehidupan di Negara yang menganut demokrasi yang dimana rakyatnya yang berperan penting terhadap kemajuan di negaranya. Maka sosialisasi harus dilakukan, masyarakat awam biasanya masa bodoh dengan apa itu politik karena mereka berpikir tidak ada gunanya mengurusi hal yang masih tabu bagi mereka, mereka menganggap politik itu hanya milik orang-orang yang ada dalam gedung kepemerintahan, politik itu hanya milik orang berdasi dan membawa koper saja, politik itu hanya milik orang yang taraf hidupnya tinggi, mereka tidak akan berpikir bahwa mereka juga memiliki peran penting dalam perkembangan politik di Negara kita. Masyarakat masih harus di berikan sosialisasi agar mereka ikut berartisipasi dalam dunia politik.
Seperti yang dipaparkan oleh Milbrath dan Goel, dalam piramida pola partisipasinya mereka memperlihatkan bahwa masyarakat di Amerika dapat dibagikan dalam 3 kategori: antara lain: pemain (gladiators), penonton (spectators), dan Apatis (apathetic), dimana dalam presentase nya pemain  atau orang yang aktif dalan dunia politik hanya 5-7% saja, penonton atau masuarakat yang menggunakan hak suaranya secara minimal  sebanyak 60%, dan masyarakat apatis atau masyarakat yang sama sekali tidak menggunakan hak pilihnya  sebanyak 33%. Terlihat jelas disana dimana jumlah masyarakat yang aktif hanya berkisar 7% saja dari seluruh masyarakat di Amerika dan sisanya menggunakan hak suara atau hak pilihnya secara minimal dan bahkan tidak menggunakannya sama sekali.
Kembali ke Negara kita Indonesia, Negara berkembang ini ialah salah satu Negara demokrasi yang ada sebagai konsekuensinya, di sini kita sudah mengadakan pemilu sebanyak sepuluh kali yaitu pada tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1999, 2004, 2009. Secara spesifik dunia internasional memuji, bahwa Pemilu Tahun 1999 sebagai Pemilu pertama di era Reformasi yang telah berlangsung secara aman, tertib, jujur, dan adil dipandang memenuhi standar demokrasi global dengan tingkat partisipasi politik 92,7%, sehingga Indonesia dinilai telah melakukan lompatan demokrasi.

Namun memasuki awal reformasi tingkat partisipasi politik menurun dimana dapat disimpulkan seperti itu karena meningkatnya jumlah golput di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa munculnya pemikiran apatis dari masyarakat terhadap perpolitikan di Negara kita. Pemikiran ini sungguh sangat mengkhawatirkan buat Negara kita karena dimana Negara kita menganut paham demokrasi, namun para tokoh pemerannya tidak ikut berperan aktif didalamnya. Ini dapat berimplikasi melumpuhkan demokrasi karena mersotnya kredibilitas partai polotik sebagai pembangkit partisipasi politik.
Lalu setelah terjadi kenyataan seperti ini, maka timbulah pertanyaan, “apa sebenarnya factor yang mempengaruhi sikap partisipan?” jawabanya mungkin ada beberapa factor, antara lain:
·         Pendapatan
·         Pendidikan
·         Pekerjaan
·         Jenis kelamin
·         Umur
Dimana biasanya masyarakat berpendapatan tinggi lebih aktif dalam berpartisiasi daripada masyarakat berpendapatan rendah, orang berpendidikan tinggi lebih aktif dibandingkan orang yang berpendidikan rendah, pebisnis lebih aktif dibandingkan buruh atau pembantu, pria lebih aktif disbanding wanita, setengah baya (35+) lebih aktif daripada orang berusia dibawah 35 tahun.
Disinilah penting adanya sosialisasi politik yang berfungsi untuk membuat individu mengenali sistem politik, yang kemudian menentukan sifat persepsinya mengenai politik serta reaksi-reaksinya terhadap gejala-gejala politik. Seperti contoh di amerika, sebagai hasil riset survey ke dalam sosialisasi politik, David Easton dan Robert Hess (dalam rush Michael dan Phillip Althoff, 2007, hal 51) mengemukakan, bahwa disana anak usia tiga tahun sudah mulai belajar politik, dan memantapkannnya pada usia 7 tahun. Tahap tahap awal, mereka menanamkan sikap patriotism yang menjadi salah satu pondasi dari pembelajaran politik itu. Easton dan Hess menemukan bahwa anak-anak yang muda memiliki kepercayaan pada “keindahan negerinya” dan pada “kebaikan serta kebersihan rakyatnya.” Pendidikan awal itu diikuti dengan pengenalan terhadap symbol-simbol yang dapat dilihat dari otoritas umum seperti agen polisi, presiden, dan bendera nasional. Pada usia Sembilan atau sepuluh tahun akan muncul lebih banyak kesadaran mengenai konsep abstrak, seperti pemberian suara, demokrasi, kebebasan sipil, dan peranan warga Negara didalam system politik. Semakin tua lagi anak-anak akan menjadi lebih menyadari Presiden sebagai hirarki pemerintahan yang lebih kompleks.
Easton dan Dennis (dalam rush Michael dan Phillip Althoff, 2007, hal 57) mengutarakan empat tahap dalam sosialisasi diri anak-anak:
1.      Pengenalan otoritas melalui individu tertentu, seperti orang tua anak, presiden, dan polisi
2.      Perkembangan perbedaan antara otoritas internal dan  yang eksternal, yaitu antara pejabat swasta dan pejabat pemerintah
3.      Pengenalan mengenai institusi – institusi politik yang impersonal, seperti kongres, mahkamah agung, dan pemilihan umum (pemungutan suara).
4.      Perkembangan pembedaan antara institusi – institusi politik dan mereka yang terlibat dalam aktivitas yang diasosiasikan dengan institusi – institusi ini, sehingga gambaran yang diidealisir mengenai pribadi-pribadi khusus seperti presiden atau seorang anggota kongres telah di alihkan kepada kepresidenan dan kongres.
Ini mengidentifikasikan akan pentingnya sosialisasi politik mulai dari anak usia dini untuk menanamkan sikap peduli akan apa yang menjadi konsekuensi masyarakat demokrasi untuk memajukan Negara sejak kecil.
Selain itu media juga berpengaruh penting untuk ikut mensosialisasikan kepada masyarakat akan pentingnya politik untuk kemajuan Negara demokrasi. Dimana kita tau bahwa media massa merupakan alat utama untuk menyebarkan informasi lantaran mudah mengaksesnya dan banyak jenisnya. Media massa yang banyak digunakan antara lain: Koran, Televisi, dan Internet juga berperan besar dalam pembentukan sikap masyarakat terhadap politik. Namun tidak semua media massa membentuk sikap peduli akan politik, bisa juga media massa membentuk sikap apatis dari masyarakat karena media massa tidak hanya memberikan informasi yang baik, media massa juga tidak jarang memberi informasi dari kejelekan politik yang membuat masyarakat tidak percaya lagi dengan apa yang disebut dengan politik karena masyarakat berpikir untuk apa kita ikut berpartisipasi politik sedangkan orang yang terlibat langsung atau kita sebut politikus itu sendiri tidak mengurusi kita, sebagian dari mereka hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri tanpa mempedulikan cara apa yang mereka lakukan. Maka tidak salah apabila masyarakat apatis mengatakan bahwa apa itu politik, politik ialah perebutan kekuasaan, kecurangan, pembodohan massa, licik, dan lain sebagainya.
Semua itu kita kembalikan kepada pola piker kita sendiri, apabila kita inginkan kemajuan di Negara kita, kita harus ikut aktif dalam memajukan Negara dan mau mengambil segala resiko dari apa yang kita lakukan. Negara demokrasi ialah Negara yang mementingkan kehendak rakyat di atas segalanya, jadi apabila kita sebagai rakyatnya tidak mau ikut berperan dalam memajukan Negara sendiri bisa kita bayangkan bagaimana hancurnya Negara kita ini nantinya.



















Daftar Referensi

Budiardjo, Miriam 2008, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Maran, Rafael Raga 2007, Pengantar Sosiologi Politik, Rineka Cipta, Jakarta .
Thio, Alex 1989, Sociology : An Introduction, Harper & Row, New York.
Philipus & Aini, Nurul 2006, Sosiologi dan Politik, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Michael, Rush & Althoff, Phillip 2007, Pengantar Sosiologi Politik, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.