Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
denpasar, bali, Indonesia
penulis bebas nilai yang niat menulisnya tidak sejalan dengan ide menulisnya. salam kenal. aditlazu.

Kebhinekaan bagi kemajuan bangsa

Oleh: Lazuardi Aditya Ramadhan,
( Wakil Presiden Mahasiswa BEM PM UNUD 2013)
               Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan yang diambil oleh Mpu Tantular dari konsep teologi Hindu yang berbunyi Bhina Ika Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mengrawa. Artinya, berbeda beda Dia, tapi satu adanya tak ada ajaran yang menduakannya. Dalam hal ini semboyan Bhineka Tunggal Ika dijadikan pedoman dari bangsa Indonesia dalam merangkul keberagaman yang terdapat di Negara kita Indonesia. Bhineka ini pun dimasukkan kedalam salah satu pilar kebangsaan yang di antaranya adalah UUD 1945, Pancasila, dan NKRI. Keempat pilar ini dilahirkan dalam rangka memajukan Indonesia yang lebih baik.
            Sejalan dengan perjalanan bangsa pasca kemerdekaan muncul factor yang menjadi penghambat dalam realisasi konsep Bhineka Tunggal Ika itu yang sering ditandai dengan seringnya Indonesia mengalami disintegrasi bengsa dengan maraknya kekerasan antara suku, konflik yang berlatarbelakang agama,dan lain sebagainya, serta menjadi sorotan dunia Internasional. Ada fakor politik, sosial, ekonomi, hukum , HAM dan kebudayaan. Namun yang paling menjadi perhatian serius oleh masyarakat adalah persoalan identitas kebangsaan dalam hal ini persoalan kebhinekaan.
          Persoalan kebhinekaan ini memang tidak akan bisa lepas dari perbincangan seluruh kalangan masyarakat karena keberagaman di Indonesia ini bukan hanya dalam bentuk cerita namun memang sebuah realita. Suku, agama, ras antar golongan ini merupakan hal nyata dari sebuah kemajemukan yang menjadi kekayaan bangsa kita. Namun dewasa ini hal yang menjadi kekayaan bangsa dan menjadi kebanggaan kita justru menjadi momok yang sering dijadikan latar belakang dari terjadinya perpecahan bangsa yang berujung kepada konflik nasional.
                Permasalahan SARA ini sudah terendus dari dahulu ketika para pendiri bangsa sudah mencoba untuk memproteksi masalah ini dengan terteranya pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945, namun pada kenyataannya di beberapa daerah terjadi intoleransi beragama yang tidak jarang menyebabkan para penganut agama tertentu mengalami diskriminasi, selain itu konflik horizontal antar daerahpun tidak dapat terelakan di beberapa kasus.
              Hal ni tentunya harus menjadi perhatian khusus bagi seluruh stake holder bangsa kita karena melihat kebhinekaan ini sebenarnya bukan merupakan alasan bagi terjadinya perpecahan sesama masyarakat namun ini diarahkan kepada bentuk daripada salah satu kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
              Jika kita menoleh lebih jauh kebelakang melihat sosok yang mengambil semboyan ini yaitu Mpu Tantular, ia merupakan penganut agama Budha, namun ia terbuka terhadap pemeluk agama lain, terutama Hindu Siwa. Artinya sebenarnya sudah sejak lama bangsa Indonesia ini mempraktikan hidup dengan menganut toleran terhadap pluralitas. Ini adalah tradisi dan sudah melekat serta menjiwai setiap anggota masyarakat. Ini pula yang menciptakan keberagaman yang rukun dan sudah sangat mengakar pada bangsa Indonesia.
            Mantapnya kebhinekaan Indonesia dan kuatnya perekat kesatuan negara kita tersebut hanya dapat dicapai dengan mematangkan pendidikan multikultur yang ideal melalui design kebhinekaan yang mengintergrasikan seluruh aspek pendidikan nilai, pengetahuan, dan keterampilan hidup manusia dalam masyarakat Indonesia yang multikultur.
            Sistem pendidikan saat ini dianggap kurang dalam mensosialisasikan nilai-nilai seperti humanis, sehingga masih belum membentuk paradigma manusia yang mampu memahami paradigma multikulturalisme yang proporsional akibat distorsi-distorsi seperti contohnya distorsi agama yang kerap dijadikan pembenar bagi terjadinya konflik antaragama.
            Melihat hal diatas maka sebagai penerus sekaligus tulang punggung bangsa, generasi muda diharapkan mampu menanamkan semangat toleransi pluralisme, dan penghargaan antar kelompok agar tetap lestari dan menjadi dasar kehidupan berbangsa. Persepsi generasi muda tentang persoalan kebangsaan, pluralitas dan kepemimpinan nasional sangatlah penting dalam rangka mengeksplorasi opini dan sikap publik tentang kebhinekaan di Indonesia.

            Saat ini sangat diperlukan adanya kelompok-kelompok yang diisi oleh anak muda dalam upaya membangun toleransi keberagaman dan mendorong semangat kebhinekaan. Pengalaman kehidupan sehari-hari para pelajar Indonesia serta gagasan-gagasan yang dimiliki oleh generasi muda harus mulai di tanam, dipupuk, dan di sirami. Karena saat ini melihat pelatihan atau seminar- seminar yang arahnya kepada semangat kebhinekaan yang diadakan oleh orang-orang tua dapat dikatakan hanya sebagai seremonial atau formalitas saja, maka dari itu semangat yang dimiliki oleh intelektual muda yang idialismenya dapat diadu mungkin harus mulai mendominasi untuk mengisi semangat multikultur ini. Karena dengan memperluas wacana kebhinekaan di kalangan anak muda, dalam jangka panjang diharapkan dapat terbangun secara luas pengejawantahan kebhinekaan Indonesia.


Tenggelamnya Pulau Bali!!!


Oleh: Lazuardi Aditya Ramadhan,
( Wakil Presiden Mahasiswa BEM PM UNUD 2013)

Hai oya hayo Kembalikan Bali ku padaku (2x), Laut nan menderu, Gunung nan membiru, Tanah pusakaku, Berawan kelabu… (potongan lirik lagu kembalikan Baliku – Guruh Sukarno Putra)
            Pulau Bali merupakan pulau yang menjadi primadona wisatawan untuk datang berkunjung ke Indonesia. Berkat buku yang ditulis oleh Miguel Cavarubias, yang terbit pada tahun 1937 yang berjudul, The Island of Bali membuat pulau kecil yang kurang terjamah saat itu menjadi mulai dilirik oleh pengunjung atau wisatawan baik domestic maupun asing. Dalam buku tersebut dibangun pula citra bali yang spesifik dan mampu mengundang minat wisatawan untuk berkunjung. Atas jasa jasanya, kemudian Bali dikenal dengan puja puji sebagai the island of God, the thousand of temples, the last paradise of the world, visit Bali before you die, dan lain lain.
Sejak tahun 1970 pulau bali mulai digandrungi oleh wisatawan mancanegara mulai lancer dan bahkan mulai sulit untuk dikendalikan dengan tidak terkendalinya para investor mulai masuk kedalam pembangunan di Bali dengan dalil untuk memajukan Bali yang ditunjuk sebagai tujuan pariwisata. Namun saat ini ketika investor masuk terlalu dalam di sector pembangunan bali baik infrastruktur, maupun aksesbilitas, Bali mulai merasakan munculnya kegelisahan social.
Munculnya hipotesa seperti itu bukan tanpa alasan atau hanya sekedar asumsi dari segelintir pihak saja, karena hal seperti yang disebut diatas itu saat ini merupakan masalah yang benar benar sedang dihadapkan oleh masyarakat Bali ketika mereka merasa sudah tidak lagi memiliki ciri khas, tidak memiliki kepribadian lagi, yang disebabkan karakter mereka harus rela di beli oleh pemilik modal tertinggi yaitu investor, maka tidak salah lagi ketika dikatakan pariwisata Bali akhir-akhir ini menjadi pariwisata yang kapitalis dengan semakin tinggi tingkat masuknya budaya asing dan tergerusnya budaya local.
Sederhana saja, saat ini sangat sedikit wisatawan yang dapat melihat sawah yang terhampar luas, semakin jarangnya bangunan berarsitektur Bali berdiri kokoh karena mereka digerus oleh bangunan-bangunan tinggi, dan hotel-hotel yang sudah bertebaran di kota kota besar, bahkan di daerah pedesaan pun persawahan mulai tergantikan oleh villa villa yang dibangun berdalih meningkatkan sarana-prasarana yang bertujuan untuk mendukung pariwisata Bali. Padahal apabila kita lebih peka saat ini lebih banyak sekali dampak negative yang kita dapatkan daripada dampak positif yang dijanjikan atau dielu-elukan.
Tingkat kunjungan wisatawan Bali saat ini memang masih tinggi namun beberapa peneliti mengatakan bahwa presentase  peningkatannya justru menurun seiring waktu (demishing return), serta tingkat lama tinggal wisatawan di Bali juga sudah menurun drastis dari yang sebelumnya paling sebentar adalah sekitar 2 minggu, saat ini wisatawan hanya betah sampai jumlah harian saja. Gejala tersebut menunjukkan bahwa wisatawan mulai tidak betah atau tidak nyaman lagi untuk tinggal berlama-lama di Bali. Banyaknya keluhan mengenai keadaan pulau Bali sebagi sentra pariwisata budaya sudah mulai memudar. Ketika dulu wisatawan yang datang ke Bali untuk menikmati budaya local, mereka akan tinggal di pedesaan dalam waktu yang lama demi mendapatkan sensasi yang luar biasa ketika mereka melihat upacara, system subak, sangkep, tari-tarian dan alam tentunya. Namun saat ini banyak wisatawan yang merasa ketika mereka datang ke Bali tidak jauh berbeda lagi ketika mereka liburan di negaranya.
Selain hal tersebut saat ini juga Bali sudah mulai mengalami banyaknya masalah masalah seperti, kemacetan, kriminalitas, PSM, intrusi air laut yang sudah meleleh, sempadan sempadan yang sudah dijarah, serta ketidaknyamanan lain yang tidak hanya dirasakan oleh wisatawan saja namun masyarakat Balipun juga mengalaminya. Hal tersebut tidak akan terjadi ketika daya dukung Bali tidak terlampau jauh seperti saat ini, ketika menurut peneliti asal Prancis yang sejak tahun 1985 menyatakan bahwa Bali hanya memerlukan 24.000 kamar hotel, sampai saat ini justru lebih dari 80.000 kamar hotel sudah berdiri tegak belum termasuk hotel-hotel yang sedang dibangun saat ini. Seharusnya pemda tidak termakan oleh besaran PAD, APBD, dan PDRB, dengan pemerintah mengeluarkan moratorium untuk pembangunan yang berkelebihan ini justru pemerintah akan dijadikan sebagai pahlawan bagi pulau Bali.
Jika diajak untuk berbicara tentang pemerintah, sebenarnya pemerintah seharusnya bisa jeli melihat apa sebenarnya permainan para investor di dalamnya, ketika para investor masuk ke dalam proyek pembangunan yang terus mengatakan demi memajukan Bali, peningkatan ini akan sejalan dengan meningkatnya pula nilai pajak bagi pembangunan yang akhirnya membuat masyarakat kecil seperti petani akan tidak kuat lagi menjalani hidup sebagai petani, sehingga mereka akan menjual lahan mereka kepada para investor yang kemudian akan kembali melakukan pembangunan yang sebenarnya hanya akan menguntungkan pihaknya saja, seperti itu memang praktik dari kapitalisme yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terinjak.
Muncul kemudian pikiran yang menanyakan apakah sebenarnya masih layak pulau Bali ini menjadi daerah tujuan wisata? Ketika para wisatawan yang sebenarnya datang ke Bali menginginkan hal yang dahulu kala mereka dapatkan disini yakni ke orisinilan Bali tetapi saat ini mereka tidak dapatkan. Maka mereka akan lebih berfikir untuk mengunjungi destinasi lain yang dapat memuaskan hasrat mereka. Pembangunan seharusnya tidak lagi difokuskan ke pulau Bali saja tetapi lebih kepada destinasi lain yang lebih membutuhkan seperti daerah timur yang kurang terjamah, yang justru disana mulai tinggi tingkat ketertarikan dari wisatawan untuk berekreasi.
Sehingga diharapkan akan mampu mengurangi tingkat kecemburuan sosial ketika saat ini mereka berpikir bahwa pembangunan hanya dilakukan di pulau Jawa dan Bali saja tanpa melihat potensi potensi lain di daerah lain. Selain itu akan mengurangi jumlah migrasi yang tingkatannya di Bali sudah termasuk tinggi yang ini juga termasuk salah satu penyebab dari tingginya aksi kriminalitas di Bali karena tingginya tingkat stress disini.

Sehingga ujung dari tulisan ini adalah bertujuan untuk menyadarkan masyarakat Bali terhadap pembangunan yang hanya menguntungkan pihak investor saja agar di stop, walaupun efek yang ditakutkan adalah berkurangnya jumlah wisatawan disini sebenarnya hal itu baik ketika hasilnya justru mampu menjaga kearifan budaya local disini dan tidak melupakan aspek komersialnya. Karena ketika kita memberikan kesan berbeda di Bali dengan hanya menyajikan wisata bertema budaya maka wisatawan akan terus berfikir ciri khas atau karakter pulau Bali ini adalah budayanya yang tidak bisa mereka dapatkan di daerahnya atau daerah daerah tujuan wisata lain, sehingga tingkat kunjungan mereka ke Bali tidak mungkin menurun dan bahkan lama tinggal mereka akan panjang sehingga hal tersebut tentu akan sangat menguntungkan bagi masyarakat Bali seutuhnya. Dengan cara itu besar kemungkinan eksistensi Bali tetap tinggi tanpa harus dipegang oleh tangan asing.

MELAWAN "SENGKUNI"


Sudah kurang lebih seminggu ini BEM PM UNUD disibukin sama aktivitas baru. Bukan hari raya bukan jalan jalan, tapi sibuk mengawal pilrek. Sebenernya saya pun merasa aneh nih sama kesibukan kita disini, bukan aneh gimana tapi agak bingung aja sama keadaan yang melanda kampusku tercinta ini. Kenapa apa yang kita inginkan selalu saja terpatahkan, toh keinginan kita bukan mbakar kampus kan?

Pemilihan Rektor memang sudah di setting sejak lama bung, dengan pemilihnya adalah 65% suara senat universitas dan 35% suara menteri pendidikan (tolong ralat jika salah) jelas mahasiswa disini tidak punya hak memilih, tetapi ketika disini posisi mahasiswa adalah merupakan bagian dari civitas akademika di Universitas Udayana ya sudah jelas punya hak dalam memberikan suara terkait siapa yang akan menjadi stakeholder dari universitas ini.

Berlatar belakang dari hal tersebutlah akhirnya kita dari BEM PM berinisiatif untuk mencari formulasi untuk tau atau mengenali calon pemimpin tertinggi mereka nanti akhirnya dirancanglah suatu formulasi baru dalam bentuk debat kandidat rektor, dengan menyiapkan panelis yang fungsinya adalah menyampaikan permasalahan permasalahan yang ada di Universitas Udayana, panelis itu dibagi tiga komponen yaitu: akademisi, alumni, dan mahasiswa, yang mana mereka akan mempertanyakan permasalahan yang mereka hadapi dari masing masing pandangan yang tentunya sudah dibagikan kategorinya.

TAPIIIII,,, ide gemilang kita ternyata tidak disambut baik oleh panitia pemilihan rektor ini dengan alasan ketakutan ketakutan akan adanya saling singgung dan lain sebagainya akhirnya kami dari mahasiswa setelah beberapa kali melakukan rasionalisasi dan konsolidasi baik dengan panitia maupun dengan rektor yang masih menjabat tetap tidak bisa menghasilkan apa yang kita inginkan, kitapun tegas mengambil sikap bahwa harus tetap bergerak dengan konsep kita.

Membangun kawan kawan di basis fakultas kita lakukan, menghubungi pers pers kampus dan pers masyarakat juga kita lakoni,untuk bisa mewujudkan cita cita kami. Dan halangan terbesar adalah ketika kami menemui 3 calon, ternyata ketiga calon tersebut sudah terlebih dahulu diberikan surat oleh para panitia pemilihan rektor yang menghimbau mereka untuk tidak melakukan sosialisasi diluar dari yang dibuat oleh panitia pilrek tersebut

SIALL!!!

Tapi satu hal yang menjadi dasar dari pergerakan kami, ketika sesuatu sudah kita lakukan dengan totalitas tidak akan ada yang namanya sia-sia. Maka kamipun tetap terus bergerak bak pandawa yang terus berjuang melawan kebengisan dan kelicikan sengkuni yang mengendalikan kurawa. Tapi jelas harapan kita disini adalah akhir dari cerita perang kita ini adalah Pandawa bisa tertawa terbahak bahak di halaman akhir. Hahaha, 



Semoga debat kandidat kita tanggal 1 April 2013  pukul 14.00 WITA yang berlokasi di auditorium Widya Sabha bisa terlaksana, amin. mohon doa dan dukungan teman teman! 

ini nih orang orangnya!!!



"KAMPUNG YANG GA KAMPUNGAN"



Keren tuh kata kata yang saya dapetin dari salah seorang pemuda desa yang saya temuin di Desa terpencil di Gianyar namanya Desa Taro Br. Alas Pujung.
Jadi gini nih ceritanya kenapa saya dapet tuh kata kata dan kenapa itu juga membekas banget di ni kuping,, waktu itu (lupa kapan waktu tepatnya) seperti biasa ya tiap hari sabtu kita di BEM PM UNUD pasti berkunjung ke desa dampingan kita yang lokasinya seperti tertera diatas tadi. Nah tanpa babibu lagi akhirnya kita ketemu nih sama pemuda disana yang namanya sebut saja bli Joni, beliau memang salah satu sekaa truna truni di Banjar Alas Pujung.
Pertemuan kita bertemakan permasalahan dan solusi masyarakat kampung (ni tema buatan saya sendiri aja sih buat pelengkap ni tulisan doing) nah abis cerita banyak banget terkait apa apa aja yang jadi permasalahan di kampung tersebut yang salah satunya itu ada di sampein bahwa permasalahan di desa ini adalah pengetahuan pemudanya minim banget jadi disana cenderung kayak katak dalam tempurung, jadi pergerakan mereka ya cuman di seputaran desa itu aja sedikit yang bisa atau mau bergerak lebih luas lagi, padahal kalo boleh jujur ya itu desa potensinya besar banget dari mulai sumber daya alam sampe ke sumber daya manusianya itu bisa dibilang udah top banget deh, sumber daya alam nya kaya banget, orang orangnya seniman patung, kehidupan materinya ga bisa dibilang kekurangan pokoknya.
Tetapi yang menjadi ganjalan di hati kita nih ya atau yang sering anak gaul sebut sebagai “miris” atau “ironis” banget itu adalah kesadaran mereka untuk menimba ilmu lebih luas dan lebih tinggi lagi. Mereka rata rata cuman lulusan smp, dari data yang di dapet cuman ada 2 orang aja sekarang yang sedang sekolah di bangku SMA (data dari bli Joni), waduh bukan gmana ya tapi ini yang membuat kita di BEM PM sedang memutar otak buat nyari formulasi terkini terkait problematika ini.
Nah mungkin temen temen pembaca nanyak ya, kenapa kok kita keliatan sok care gitu?, jadi ya kita pure banget pingin memajukan strata disana itu karna ya takut aja gitu kekayaan alam dan sumber daya disitu ga bisa digunakan dengan baik gitu sama masyarakatnya karna bisa dibilang pendidikan formal mereka yang kurang, karena bli Joni sendiri yang bilang bahwa sebenernya pingin banget ngajak temen temen disini ini keluar daerah biar mereka tau gimana sih keadaan diluar sana supaya pikiran mereka bisa terbuka gitu ga cuman berkutat disini sini aja, lulus smp udah aja di sawah tok, ga ada kegiatan yaudah nikah jadinya, nah loh,,, ditambah lagi ya katanya bli Joni juga, dia termasuk satu cowok paling tua yang belum nikah (padahal umurnya baru 25an).
Jadi setelah kita liat liat sekeliling dan ngrobol ngrobol sama bli joni akhirnya dapet ditarik benang merah deh kalo kita tu harus mencari jalan gmana caranya membuat minat pemuda disini untuk belajar ataupun mencari pengetahuan yang lebih supaya levelnya ga ketinggalan jauh lah sama perkotaan karna ya emang sangat jauh banget keliatannya perbedaannya, gitu sih yang bli joni bilang ke kita “yah harapan kita disini kan supaya biarpun kita orang dari kampung tapi pemikirannya ga kampungan”. Ashek!!! Hhahaha

NALAR!!!




Ditemani segelas kopi dan harian kompas hujan pagi ini jadi terasa nikmat bangeet apalagi ditambah alunan saxophone punya kenny G, wiih udah kaya di film film nih, hhehe. Tapi yang buat saya pingin nulis sih bukan hujan atau kenny G nya yaa, saya cukup tertaik dengan tulisan dari harian yang saya baca (kompas). Dirubrik opini hari ini (20 February 2013) ada sebuah tulisan dari guru besar matematika ITB, Iwan Pranoto yang isi tulisannya tentang kelemahan siswa terkini dalam hal bernalar aktif baik yang pra perguruan tinggi maupun yang sedang ada dalam bangku perkuliahan.
            Melihat hal tersebut saya jadi mesam-mesem sendiri karena ya memang ga bisa dipungkiri lagi sayapun masih seperti itu, hehehe. Kebanyakan siswa sekarang (termasuk saya) hanya kuat dalam penghafalan fakta saja namun kurang sekali dalam hal bermain nalar. Ketika pelajar di Indonesia menurut TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) dianggap memiliki keunggulan di atas rata rata dunia dalam menghafal fakta namun tidak dapat dibanggakan ketika hanya penguasaan penghafalan saja kita kuat namun dalam penyelesaian permasalahan atau contoh kasus sama sekali kita tidak bisa kuasai.
Inilah tugas berat yang harus kita selesaikan dimulai dari diri kita sendiri ataupun dukungan dari diri orang lain. Dari diri kita sendiri dapat kita lakukan mulai dari mengubah mindset kita menghadapi pelajaran formal yang kita dapatkan karena ketika kita masih mainstream maka kita akan masih berpatokan bahwa yang penting “hafal materi aja udah cukup”, tapi kalau kita dapat merubah pola pikir kita menjadi yang penting kita “menguasai materi baru bisa cukup” akan membuat kita tidak hanya terjebak dalam teori teori saja namun teori kita juga bisa kita implemetasikan kedalam contoh contoh kasus ataupun kita justru bisa mengkritisi teori tersebut (mantaap). Nah untuk dukungan dari luar juga harus dimulai dari guru guru yang mengajar kita yang harus mulai memerdekakan intelektualitas murid-muridnya karena kebanyakan dari mereka masih menjajah murid muridnya dengan rumus rumus dan teori teori saja.
Jadi ketika nantinya semua elemen masyarakat dimulai dari siswa siswa sudah mulai di ajak untuk berpikir aktif bernalar, maka merdekalah kita dalam bidang ilmu pengetahuan tidak hanya diperbudak oleh manuver ilmu pengetahuan di Indonesia ini. Haha. Mungkin sekian aja dulu ketikan saya saat ini semoga bisa bermanfaat untuk saya sendiri dulu.
MERDEKA !!!

mari bung rebut kembali!!!!


"Orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya; orang-orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya." Kahlil Gibran
Diawali dengan membaca quote super ala tokoh dunia Kahlil Gibran jari sayapun merasa tergerak untuk kembali menulis dengan berlatar belakang tulisan keadaan negara saya ini INDONESIA. Ada hubungan apa sebenarnya quote tersebut dengan keadaan negara kita tercinta ini bung/ses???? jadi bagi saya quote tersebut sangat sesuai dengan keadaan masyarakat kita yang umumnya sudah terlanjur "benci" dengan bangsanya sendiri, sudah terlanjur pesimis dengan masa depan mereka di sini (indonesia). keadaan seperti ini tidaklah bisa dibiarkan terus berlanjut, jika kita sebagai awak kapalnya sudah tidak mau lagi melabuhkan kapal kita bagaimana keadaan kapal kita, sudah jelas sekali tidak akan berlabuh ke pelabuhan atau pulau yang indah, tenang, damai apalagi sejahtera. 

seperti inilah wajah indonesia, sudah hampir tidak lagi ada yang peduli dengan keadaan bangsa yang seperti ini. wajar saja apabila kita berpikir pesimistik kepada negara kita ini karna kita melihat kesengsaraan, kebobrokan mental, kebodohan, kemiskinan semua itu ada di negara yang dapat dikatakan sebagai bangsa yang seharusnya sukses dengan kekayaan alamnya, bangsa yang seharusnya terpandang dengan segala sumber dayanya, bangsa yang seharusnya di segani dengan segala potensinya, bangsa yang harusnya ditakuti bangsa lain karna kebesarannya. semua ini terjadi karna bangsa kita sepertinya sudah jatuh ketangan yang salah, jatuh ke tangan kapitalisme, jatuh ketangan pemilik modal yang ingin mengeruk kekayaan bangsa kita dengan tidak memikirkan kesejahteraan masyarakat yag ada di dalamnya dan hanya memikirkan bagaimana cara mereka untuk memenuhi perut mereka dengan segala sumber daya alam yang disediakan ditanah air kita ini. 

memaknai apa yang bapak negara kita pesankan "perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri" Soekarno. YA! memang benar, pesan beliau bagaikan sebuah ramalan yang berujung kenyataan bung, kita memang sedang melawan saudara kita sendiri bukan lagi tentara asing yang membawa senjara, namun para penanam modal yang membawa koper berisikan uang yang banyak. sepertinya kita kalah hanya dengan tiupan angin segar kemakmuran yang dijanjikan mereka yang sesungguhnya hanya berniat mengeruk segala kelimpahan sumber daya yang kita miliki saja bukan lagi mensejahterakan rakyat.

saat ini bisa kita lihat, hanya berapa orang yang berpikir "bagaimana KITA makan esok hari???" saat ini hampir semua orang berpikir "apa yang akan AKU makan esok hari?" kita sudah tidak lagi peduli dengan sekitar kita, kita sudah tidak lagi berpikir untuk mensukseskan bangsa kita ini, kita sudah berpikir individualis, konsumtif, tanpa mempedulikan sekitar kita lagi. apabila kita terus biarkan pola pikir kita yang tidak lagi peduli dengan keadaan bangsa ini maka akan dilabuhkan kemana kapal ini??? apakah justru kita menenggelamkan kapal kita ini??? apakan kita mau anak cucu kita tidak lagi bangga, tidak lagi sudi, atau bahkan tidak lagi tau menau apa itu INDONESIA karena mereka lebih memilih menjadi warga negara asing ketimbang warga negara indonesia dengan melihat keadaan negara mereka yang semakin hari semakin bobrok dengan korupsi, miskin jiwa, miskin hati, miskin harta. akan menjadi apa negara kita kedepannya? matikah kita di lumbung padi?

namun di setiap kesulitan pastilah ada kesempatan, sebelum ketakutan ketakutan ku menjadi kenyataan, marilah kita mulai membuka pikiran kita untuk memperbaiki bangsa, untuk membentuk kembali moral moral bangsa kita yang sudah hampir pudar, membentuk kembali rasa nasionalisme yang sudah mulai berterbangan mencari negara lain untuk dicintai. semua itu kita sendirilah yang memulainya dengan segala perjuangan yang ditunjukan oleh pahlawan dan pejuang kita, mereka tidak merasa rugi dengan memilih mati demi utuhnya NKRI padahal belum tentu jasa mereka kita ingat dan kita pun tidak tentu tau siapa siapa saja mereka yang mengorbankan nyawa demi Indonesia namun mereka tetap saja begitu cinta dengan negara tanah kelahiran mereka ini, maka dari itu marilah kita yang sudah tinggal menikmati buah dari perjuangan mereka teruskan pengorbanan mereka dengan tetap menjaga keutuhan NKRI dan memberikan jaminan kepada seluruh warga negara Indonesia sebuah kemakmuran, sebuah kesejahteraan, sebuah keamanan dan semuanya yang mereka butuhkan untuk hidup. jadikan mereka kaya di negeri bertabur sumber daya ini. bangunkanlah kembali garuda yang sedang tertidur ini, terbangkan dia jauh ke langit jangan biarkan ia kembali jatuh kebumi. semua itu ada ditangan kita, ini adalah negara kita jadi kitalah yang wajib memajukan negara ini.
MARI BUNG REBUT KEMBALI TANAH AIR KITA!!!!!!!!!

tulisan ini merupakan tulisan mahasiswa bodoh yang ingin menjadi saksi dari perubahan..

Ilmu Versus Nilai




           Tulisan ini saya buat Karena ada sesuatu yang mengganjal di pikiran saya sepulang kampus. Tadi sebelum pulang kampus ngedapetin curhatan temen masalah nilai ujiannya dia yang jatuh, doi bener bener ngrasa kayak udah ga ada harapan hidup aja nih gara gara ntu tadi, padahal kalo di itung itung ya, nilainya tu ga lebih rendah dari saya dan saya aja bisa santé juga ngejalanin kuliah ini, nah yang mengganjel ni ya kenapa dia bener bener kayak gitu dan ogut kayak gini??
                Jawaban itu pun bisa dijawab oleh akal pikiran gila ini dengan cepat, entah ni cuman pembelaan diri ato bisa dibilang kata kata gila tapi ada benernya ya, hhehhe. Jadi gini, terkadang tu gua liat kok ya orang orang yang lagi mengenyam pendidikan formal di suatu tempat ntu sebagian besar takut banget kalo nilai mereka itu kecil ya? Apa itu ada hubungannya ya sama kualitas pendidikan kita yang rendah??? Kok gue berani ya bilang gitu?? Jadi gini pemikiran yang gue punya, kalo anak nih di sekolahin buat nyari kerja so mereka bakalan ngejer nilai yang gede buat nunjangin kerja mereka nanti’ kalo udah gede! Iya gak?? Tapi yang aku tau yaaaa kita tu sekolah buat nyari ilmu, kalo ga salah si itu yaaa?? Nah kalo kayak gitu ya harusnya kita gampang aja dong kalo ikut belajar di sekolah,, yang penting kita bisa nerima apa yang bapak ibu pengajar kasih ke kita dan kalo kita ngga ngeh kita tanyain ke mereka dan kalo mereka ngga bisa jawab kita pukulin aja eh maksudnya kita tungguin aja sampe mereka bisa jawab kan?? Hhehehe. Jadi kalo nanti kita uda ujian pasti kita bisa jawab dan kalo daya inget ato penguasaan ilmu mereka tinggi ya pasti nilai mereka tinggi? Iya kan!, nah itu orang yang sekolah buat cari ilmu, kalo orang yang kuliah cuman cari nilai tu pasti dia bakal ga ngerti apa tapi nilai”nya gede (yaialah). Karena mereka cuman ngjer nilai gede itu tadi, dengan cara nyontek temen kalo lagi ujian, trus numpang gratis pas tmen temen lagi buat tugas, kalo di kelas plangak plongok ga ngerti apa apa dan ga mau nanyak karna emang ga ngeh ama pelajarannya yaaaa bukan karena dia udah ngeh ato dia udah nguasain materinya ini.
                Itu dia tadi yang menurutku  bisa jadi masalah besar, lah kok gawat banget? Yailah boy! Bayangin den kalo satu angkatan aja setengah muridnya udah kayak gitu bisa dibayangin deh masa depan bangsa ini kayak apa? Haitttt! Hhaha. Tapi ya emang kan yah? Kalo aku pikir pikir kebobrokan pentolan pentolan negeri kita itu pasti karna itu kan, pas muda dulu pasti dia lebih suka nyari jalan instan buat ngedapetin hal yang dianggap orang banyak itu wah yaitu nilai yang tinggi. Lain kalo orang yang nganggep nilai itu hanya sebagai hasil dari penguasaan materi mereka, pasti mereka bakalan mentingin ilmu apa yang mereka dapet hasil dari mengenyam pendidikan yang mereka tempuh tanpa terlalu peduli sama nilai yang tinggi (maksudnya tu mereka tetep peduli tapi ga kebangetan ya) yang harus mereka raih. Tapi menurutku orang orang yang kayak itu dia yang kebanyakan sukses karena emang mereka yang bisa bener bener menguasai dan memahami ilmu yang mereka cari dan mereka bisa mengimplementasikan di lapangan ato maksudnya itu di kehidupan sehari hari. Kebanyakan dari mereka juga pasti menganggap “halah nilai tu kan cuman di pake pas masukin lamaran doang selebihnya tu pake ilmu kan ya?” ,,,
                Nah jadi bisa kita tarik kesimpulan kalo dalam kehidupan perkuliahan maupun kedepannya nanti, yang terpenting itu adalah indeks peradaban komulatif bukan sekedar indeks prestasi komulatif bung! Kalo aja negara kita ini lebih mementingkan yang kayak gini yaaa? Yakin deh ga lama lagi negara kita bakal maju. Kenapa aku bilang gitu, sekarang liat deh negara buat meningkatkan kualitas dari pendidikan mereka pasti menaikan nilai standar lulus Ujian Nasional, yang membuat murid murid lebih takut ga lulus, jadi mereka berbondong bondong deh buat nyontek dan lulus,,, dan jebolannya nanti pasti mereka tetep bisa kerja, tapiiiiii ya kayak orang orang pemerintahan sekarang ini bung!!! Ndak ada yang salah dalam hal ini cuman yaaaaaaaaaaaa ……………………….
               

Sekian deh yang bisa ogut share,,, kalo ga sepemahaman jangan diambil hati yaaa, diambil yang baik baik aja, yang jelek monggo dievaluasi keun,, nuhuuuun